Krikil - Tradisi Haul dan Adat Istiadat Masyarakat Dusun Pejaten

Tradisi Haul dan Adat Istiadat Masyarakat Dusun Pejaten

KENDAL — Tradisi dan adat istiadat merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang menyimpan cerita tentang asal-usul tempat, penghormatan kepada tokoh yang dikenang, serta semangat kebersamaan. Di Dusun Pejaten, Desa Krikil, Kecamatan Pageruyung, Kabupaten Kendal, sejumlah kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat masih terus dilestarikan hingga kini.

Berdasarkan penuturan warga, masyarakat Dusun Pejaten rutin menggelar haul setiap tahun, biasanya setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Kegiatan ini erat kaitannya dengan sosok Kyai Wangsa Citra, yang dipercaya masyarakat sebagai tokoh perintis permukiman di wilayah Pejaten. Rangkaian acara haul biasanya diisi dengan pengajian yang menghadirkan kiai, serta ziarah ke makam.

Menariknya, pada pelaksanaan terbaru, kegiatan haul tersebut dirangkai dengan Kirab Sedekah Bumi. Hal ini terlihat dari dokumentasi foto warga yang menunjukkan antusiasme masyarakat mengarak gunungan hasil bumi dan membawa banner bertuliskan "Kirab Sedekah Bumi Warga Dusun Pejaten". Arak-arakan ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi dan keberkahan yang mereka terima.

Warga juga mewariskan cerita lisan bahwa wilayah Pejaten dahulu berupa hutan jati. Kondisi alam masa lalu itu diyakini masyarakat berkaitan dengan asal-usul nama Pejaten. Cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah lisan yang masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui keterangan sesepuh lain atau dokumen lokal jika tersedia.

Selain itu, dalam wawancara, warga menceritakan keberadaan batu-batu bulat di area makam yang dahulu digunakan sebagai pijakan berwudhu. Batu-batu tersebut kemudian dikumpulkan, dengan jumlah yang diperkirakan sekitar 17 buah. Keterangan mengenai jumlah dan fungsi batu ini berasal dari penuturan narasumber, dan akan lebih kuat jika dilengkapi dengan foto detail serta konfirmasi dari warga yang mengetahui sejarahnya.

Di luar rangkaian acara besar tersebut, masyarakat juga rutin melakukan bersih-bersih makam setiap selapan (siklus 35 hari dalam penanggalan Jawa). Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk merawat area makam sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Tradisi di Dusun Pejaten ini memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan keagamaan, ingatan terhadap tokoh yang dihormati, pelestarian budaya, dan kebersamaan masyarakat. Pendokumentasian cerita para sesepuh, foto makam, serta kegiatan tahunan seperti haul dan kirab hasil bumi sangat penting dilakukan agar pengetahuan lokal ini tetap dikenal dan dijaga oleh generasi berikutnya.

 

 

 

 


Dipost : 2026-10-26 10:41:07 | Dilihat : 14

Share :